Jalanan Indonesia adalah museum hidup, menceritakan kisah sukses merek-merek mobil yang telah melampaui fungsinya sebagai alat transportasi. Mereka telah menjadi bagian dari identitas keluarga, simbol status, dan saksi bisu pertumbuhan bangsa. Artikel ini menggali sejarah di balik merek-merek yang paling melegenda di tanah air, dari “Kijang” yang tak terganti hingga sedan Eropa yang melambangkan kemapanan.
Perjalanan ini dimulai pada era pasca-kemerdekaan, di mana merek-merek Amerika dan Eropa seperti Chevrolet, Ford, dan Mercedes-Benz mendominasi jalanan, seringkali sebagai kendaraan dinas atau milik kaum elit. Ini adalah era di mana memiliki mobil adalah sebuah kemewahan mutlak, dan merek-merek ini membangun fondasi citra prestise otomotif di Indonesia.
Titik baliknya terjadi pada tahun 1970-an dengan masuknya pabrikan Jepang. Merek seperti Toyota, Suzuki, dan Mitsubishi memperkenalkan kendaraan yang lebih terjangkau, irit bahan bakar, dan yang terpenting, tangguh. Lahirnya Toyota Kijang pada tahun 1977 bukan hanya peluncuran produk; itu adalah revolusi. Ia mendefinisikan kategori “mobil keluarga” dan “mobil niaga” dalam satu paket.
Selain Kijang, ada ikon lain seperti Suzuki Carry yang menjadi tulang punggung usaha kecil menengah (UKM) dan angkutan kota. Di sisi lain, Mitsubishi Lancer dan Honda Civic menjadi kanvas bagi budaya kustomisasi dan balap jalanan yang mulai tumbuh di kalangan anak muda perkotaan. Merek-merek ini legendaris bukan hanya karena angka penjualan, tetapi karena mereka mengisi setiap ceruk kehidupan masyarakat.
Kini, warisan itu terus hidup. Meskipun model-model baru telah menggantikan yang lama, nama-nama legendaris itu tetap memiliki tempat khusus. Mereka adalah bukti bahwa di Indonesia, mobil bukan hanya soal mesin; ini soal kenangan, warisan, dan evolusi sosial yang terus berjalan di atas empat roda.

