Tiongkok kini menghadapi krisis demografi yang dipercepat: populasi yang menua dengan cepat (super-aging) dan tingkat kelahiran yang berada pada rekor terendah, meskipun kebijakan Satu Anak telah dihapus dan digantikan dengan kebijakan Tiga Anak. Analisis menunjukkan bahwa kebijakan Dua Anak, yang diterapkan pada 2016, secara fundamental gagal mengatasi tantangan ekonomi dan sosial yang mendorong pasangan muda untuk tidak memiliki anak.
Kegagalan ini berakar pada tingginya biaya hidup, terutama biaya pendidikan dan perumahan di kota-kota besar Tiongkok. Meskipun pemerintah melonggarkan batasan jumlah anak, mereka tidak secara efektif mengurangi beban finansial dan waktu yang diperlukan untuk membesarkan anak. Hal ini menyebabkan generasi muda merasa dibebani dengan ekspektasi negara tanpa adanya dukungan sosial yang memadai.
Dampak dari super-aging ini sangat besar bagi ekonomi Tiongkok. Penurunan tenaga kerja produktif akan menghambat pertumbuhan PDB jangka panjang, sementara sistem pensiun dan layanan kesehatan akan berada di bawah tekanan ekstrem. Tiongkok harus bergegas berinvestasi dalam robotika, otomatisasi, dan layanan perawatan lansia berbasis teknologi untuk menopang populasi lansia yang terus membengkak.
Krisis demografi Tiongkok menjadi pelajaran penting bagi seluruh Asia. Ini menunjukkan bahwa mengatasi penurunan angka kelahiran memerlukan reformasi struktural ekonomi dan sosial yang mendalam, bukan sekadar perubahan kebijakan kuantitas anak. Solusi harus mencakup dukungan finansial, pendidikan anak usia dini yang terjangkau, dan budaya kerja yang lebih seimbang.

