Konsep Web3, yang mencakup teknologi blockchain, Non-Fungible Tokens (NFT), dan metaverse, telah menjadi fenomena budaya dan investasi yang masif di Asia. Meskipun hype global sedikit mereda, Asia menunjukkan ketahanan dan fokus unik dalam pengembangan Web3, terutama pada konten lokal dan aplikasi spesifik kawasan.
Alih-alih hanya meniru model Barat, Asia berinvestasi dalam pengembangan metaverse yang melayani kebutuhan budaya tertentu, seperti platform e-commerce virtual atau ruang pertemuan perusahaan. NFT lokal yang didasarkan pada seni tradisional, makanan, atau ikon pop Asia juga mendapatkan popularitas dan nilai tinggi.
Pemerintah di beberapa pusat keuangan, seperti Hong Kong dan Jepang, mulai menyusun kerangka regulasi untuk aset digital dan metaverse, berupaya menarik investasi dan inovasi Web3 tanpa mengorbankan perlindungan konsumen dan stabilitas keuangan. Pendekatan yang berhati-hati namun progresif ini menarik banyak developer.
Meskipun potensi metaverse dan NFT untuk mengubah interaksi online sangat besar, tantangan utama adalah skalabilitas teknologi, kemudahan penggunaan bagi konsumen umum, dan mengatasi skeptisisme yang masih ada terhadap aset digital di kalangan investor tradisional.
Fenomena Web3 di Asia menunjukkan ketahanan dengan fokus pada pengembangan metaverse dan NFT yang disesuaikan dengan budaya lokal, mendorong regulator di pusat keuangan seperti Hong Kong untuk menciptakan kerangka kerja yang progresif guna menarik inovasi.

