Di tengah masyarakat Asia yang sangat kompetitif, di mana Tiger Parenting (pola asuh yang sangat menuntut prestasi) telah menjadi norma, muncul gerakan baru yang lebih kritis terhadap tekanan akademik ekstrem. Orang tua Asia yang teredukasi kini mencari pendekatan parenting yang lebih seimbang, yang memprioritaskan kesehatan mental, kreativitas, dan keterampilan sosial anak di atas nilai ujian semata.
Perubahan ini didorong oleh tingginya angka stres dan depresi pada remaja Asia, yang sebagian besar terkait dengan tekanan akademik yang tak henti-hentinya. Orang tua kini menyadari bahwa kesuksesan di masa depan menuntut lebih dari sekadar nilai A; anak-anak membutuhkan kecerdasan emosional dan kemampuan beradaptasi.
Gerakan ini terlihat dalam peningkatan permintaan akan kegiatan ekstrakurikuler berbasis seni, olahraga, dan mindfulness, alih-alih hanya les tambahan. Komunitas orang tua di Korea dan Singapura aktif berbagi pengalaman tentang bagaimana mendukung minat anak, bahkan jika minat tersebut tidak secara langsung mengarah ke profesi bergengsi.
Parenting kritis ini adalah upaya kolektif untuk meredefinisi ulang arti “anak yang sukses” di Asia. Dengan melepaskan diri dari siklus tekanan yang diwariskan, generasi orang tua ini berharap dapat membesarkan anak-anak yang bahagia, berdaya tahan, dan mampu menghadapi dunia modern dengan lebih baik.

