Tren Konser Musik dan Festival Lokal Pasca-Pandemi

Tren Konser Musik dan Festival Lokal Pasca-Pandemi

0 0
Read Time:1 Minute, 9 Second

Setelah lebih dari dua tahun terkurung dalam pembatasan sosial, dahaga akan pengalaman kolektif akhirnya terbayar lunas. Ledakan konser musik dan festival lokal pasca-pandemi bukan sekadar kembalinya sebuah industri; ini adalah fenomena budaya. Masyarakat berbondong-bondong mencari koneksi, katarsis, dan kegembiraan komunal yang telah lama hilang.

Tren yang paling menonjol adalah “revenge entertainment”. Orang-orang rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk tiket, merchandise, dan bahkan bepergian ke luar kota demi menonton artis idola mereka. Fenomena “war tiket” yang selalu ludes dalam hitungan menit menjadi bukti betapa tingginya antusiasme ini, melampaui level sebelum pandemi.

Dari sisi penyelenggara, ada pergeseran signifikan. Protokol kesehatan yang dulu ketat kini berganti fokus pada keamanan dan kenyamanan. Sistem pembayaran cashless menjadi standar. Selain itu, festival-festival kini tidak hanya menjual musik; mereka menjual “pengalaman” menyeluruh, lengkap dengan instalasi seni, booth F&B yang curated, dan spot foto yang Instagrammable.

Sub-genre baru juga bermunculan. Festival yang lebih “niche”, seperti festival musik folk di alam terbuka, atau konser nostalgia yang membangkitkan kenangan era 2000-an, terbukti sangat sukses. Ini menunjukkan bahwa penonton tidak hanya mencari keramaian, tetapi juga pengalaman yang lebih personal dan relevan dengan identitas mereka.

Ledakan ini, bagaimanapun, juga membawa tantangan. Mulai dari oversaturation (terlalu banyak acara dalam waktu berdekatan), masalah keamanan (seperti kasus kerumunan yang tidak terkendali), hingga calo tiket digital. Ke depan, industri ini harus menyeimbangkan antara euforia sesaat dan keberlanjutan jangka panjang.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%